Hukum dasar syari’at dalam memandang secara sengaja kepada perempuan bukan mahram adalah haram kecuali jika hal itu dilakukan untuk suatu keperluan darurat yang dibenarkan syari’at. Tentang hal ini Allah berfirman

(Qs. An Nur : 30-31)

Dalam shahih Bukhari Muslim diriwayatkan bahwa Fadhl bin Abbas ra. suatu hari duduk di belakang Rasulullahn SAW. Pada Hari Raya Kurban, dari Muzdalifah ke Mina. Kemudian lewatlah wanita-wanita yang mengendarai unta. Karena itu, al-Fadhl memfokuskan pandangannya kepada mereka. Mengetahui hal itu Rasulullah segera mengarahkan kepala al-Fadhl ke arah yang berlainan.

Ini merupakan bentuk pengingkaran dari Nabi SAW terhadap perbuatan tersebut, dan bentuk larangan beliau. Jika memandang wanita bukan mahram itu boleh, niscaya Nabi SAW akan membiarkan hal itu.

Pandangan Mendadak

Jika secara tak sengaja pandangan seorang lelaki atau wanita mengenai seseorang yang bukan mahramnya, mendadak maka hendaknya ia segera mengalihkan pandangannya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya dari Jarir bin Abdullah al-Jubali, bahwa ia berkata, “Saya bertanya kepada Nabi tentang memandang secara tak sengaja (mendadak), maka beliau memintaku untuk mengalihkan pandanganku.” Abu Daud meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Nabi bahwa beliau bersabda kepada Ali Bin Abi Thalib, “Hai Ali, janganlah engkau ulangi pandangan pertama. Karena pandangan pertama dimaafkan, sedangkan pandangan yang kedua dilarang.”

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa Allah memerintahkan untuk menundukkan pandangan. Nabi SAW memberikan peringatan akan pandangan yang tak sengaja. Juga memerintahkan agar segera mengalihkan arah pandangan jika melihat pandangan yang haram dengan tanpa sengaja.

Menurut mengalaman, pandangan yang kedua makin membuat jelas godaan. Orang yang mengulangi pandangan itu mungkin melihat apa yang melebihi godaannya, sehingga bertambahlah deritanya. Iblis menggoda dan berusaha menjerumuskannya ketika ia ingin mengulang pandangannya untuk yang kedua. Ia tidak ditolong oleh Allah untuk menghadapi godaan yang ia alami jika ia tidak mau melaksanakan perintah-perintah syari’at dan mengobati diri dari yang diharamkan oleh Allah. Pandangan mata adalah anak panah yang beracun dari Iblis, maka bagaimana mungkin orang berobat darinya dengan racun pula.

Kapan Memandang  Diperbolehkan

Memandang dapat dibagi ke beberapa macam :

Pertama, memandang yang diharamkan. Seperti melihat lawan jenis yang bukan mahram, tanpa adanya keperluan yang diperbolehkan memandang orang itu. Kedua, pandangan yang disunnahkan adalah memandang kepada wanita yang ia ingin dinikahi dan menurut dugaan kuatnya wanita itu akan menerimanya. Ketiga, memandang yang dibolehkan adalah memandang seperti tanpa sengaja kepada wanita bukan mahram. Sedangkan jika dilakukan dengan sengaja, seperti memandang kedua kalinya, maka hal itu diharamkan.

Memandang Ketika Meminang

Rasulullah SAW memerintahkan orang yang ingin memainang (khitbah) atau menikah agar memandang calonnya. Muslim meriwayatkan bahwa Al Mughirah bin Syu’bah suatu saat meminang seseorang wanita yang akan ia kawini. Kemudian Rasulullah SAW bertanya kepadanya. “Apakah engkau sudah memandang wajahnya?” Ia menjawab, “Belum”. Rasulullah SAW bersabda, “ pandanglah dia, karena hal itu akan lebih mempererat rasa cinta dan kecocokan diantara kalian berdua”

Hak untuk memandang dalam masalah ini bagi lelaki dan wanita. Berdasarkan firman Allah, “Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” (Qs. Al Baqarah : 228)

Akan tetapi, memandang ini hendaknya dilakukan ketika lelaki yang memandang itu memang benar-benar yakin akan menikah. Ia memiliki kemampuan financial, fisik dan kejiwaan untuk tujuan itu. Juga pihak yang ia pandang itu adalah wanita yang tepat untuk dinikahi. Bukan wanita kafir atau istri orang lain.

Faedah Ghadhdhul Bashar

1.        Jalan untuk menjaga hati

2.        Menutup pintu fitnah

3.        Membebaskan hati dari penyesalan

4.        Membukakan jalan dan pintu-pintu ilmu pengetahuan

5.        Mewariskan ketetapan firasat  dan cahaya hati

6.        Siapa yang menundukkan pandangannya dari yang haram, niscaya Allah akan menggantikannya dengan cahaya hati

7.        Mewariskan kekuatan, keteguhan, dan keberanian dalam hati.

8.        Mewariskan kebahagiaan dan kegembiraan yang lebih besar ke dalam hati dibandingkan dengan kenikmatan melihat.

9.        Membebaskan hati dari tawanan syahwat, hawa nafsu dan kelalaian.

10.    Menutup satu pintu neraka dari pelakunya.

To be continued……….

by;awan