Postingan ini merupakan lanjutan dari sampit berdarah ( bag 1 ). Kerusuhan antara etnis di Tarakan jangan sampai terjadi seperti sampit, demikian kata2 presiden SBY pada Rabu, 29 September 2010, untuk lebih jelasnya klik disini…!!!

Mudahan dengan postingan ini bias menyadarakan kita bahwa kerusuhan itu hanya merugikan kedua belah pihak, dan semoga kota kita yang tercinta ini (Tarakan) selalu damai selalu dengan kehidupan yang heterogen,,,,,amiiiiin….


Sebenarnya, jauh sebelum kasus Sampit mencuat, sekitar 118 kilometer ke arah Palangkaraya, tepatnya di Desa Kerengpangi, Kecamatan Katingan Hilir terjadi pembantaian tokoh pemuda Dayak setempat. Namanya, Sendung. Tepatnya, di lokalisasi WTS Kerengpangi. Pada dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB (16 Desember 2000). Sendung datang ke lokasi perjudian. Saat itu ,ada tiga warga Madura Mat Sura, Kacung dan Mat Suki sedang main judi dadu gurak. Sebenarnya, antara Sendung dan ketiga warga Madura itu sudah saling kenal.

Sendung dikenal sebagai tokoh pemuda Dayak yang disegani. Sedangkan tiga Madura tadi dikenal sebagai penguasa lokalisasi. Tiba-tiba, tangan Sendung menyenggol badan Mat Sura. Entah dipengaruhi minuman atau balas dendam, Mat Sura tidak terima. Cekcok lantas tak bias dihindari. Emil, pemuda Dayak, saat itu berusaha melerai. Tapi, tak dihiraukan. Mereka tetap saja cek cok. Kacung, salah satu teman Mat Sura pulang ke rumah sekitar 75 meter dari lokasi semula untuk mengambil celurit. Begitu sampai, tanpa ba bi bu lagi, Kacung membacokan ke tubuh Sendung. Sendung yang juga dikenal jagoan berusaha melawan. Tapi, karena dikoroyok, Sendung pun tersungkur dengan tiga luka bacok. Dada, leher dan perut. Sedangkan warga sekitarnya takut melerai. Versi keluarga Sendung berbeda. Kepada Jawa Pos, diceritakan bahwa saat itu, Sendung dijemput beberapa orang ke lokalisasi. Kabarnya, ada judi. Sendung yang selama ini getol melarang perjudian dadu gurak di wilayahnya datang. Tapi, Dewi, istri Sendung sudah membaca sepertinya ada rekayasa penciptaan suasana agar ada bentrokan. “Makanya, begitu warga Madura tersenggol langsung cek cok,” jelas salah satu keluarga Sendung. Esoknya, warga Dayak geger. Mereka pun ramai-ramai mencari tiga warga Madura yang membunuh Sendung. Tapi, ketiganya sudah lolos. Untuk melampiaskan kekesalnya, warga dayak membakari rumah karaoke, tempat perjudian, warung makan dan rumah.   Saat itu, ada sekitar 16 rumah ludes dilalap api. Lokalisasi itu sebetulnya milik Akong. Namun, pengelolaannya sehari-hari dipercayakan kepada tiga warga Madura tesebut. Kini, Akong melarikan diri setelah terjadi insiden itu.  Warga makin dongkol karena polisi sepertinya membiarkan pelakunya lolos. Bahkan, mereka mendengar kabar kalau sudahkabur ke Pulau Madura. Kedongkolan warga Dayak makin memuncak karena itu bukan kasus yang pertama. Setiap kali, ada warga Madura membunuh warga Dayak selalu lolos dan lari ke Madura. Kalau pun masuk bui tidak lama. Kawan atau keluarganya bias menebus. “Makanya, kekesalan warga Dayak sudah memuncak,” kata tokoh Dayak Sabran Akhmad kepada Jawa Pos. Kerengpanggi sebenarnya hanya dusun kecil di tepi jalan raya Tjilik Riwut, Palangkaraya Sampit. Tepatnya, di kilometer 99 jalan Cilik Riwut. Tapi, setelah ditemukan tambang emas sekitar tahun 1980-an, dusun yang sepi mulai menggeliat.  Warga luar berdatangan mendulang emas.n Tidak terkecuali warga Madura. Apalagi, sekitar tahun 1996 Sjamsul Nursalim lewat PT Ampahit Perdana membuka pendulangan emas secara besar-besran. Dusun yang semula tenang menjadi ramai dengan hadirnya pasar, toko, karaoke, mini market, bar, yang dilengkapi lokalisasi WTS. Seiring bertambahnya warga yang mendulung emas, angka kriminalitas makin meningkat.  Tiada hari tanpa perkelahian. Umumnya melibatkan warga Dayak dan Madura. Bahkan, Perengpangi biasa disebut Texas-nya Kalteng. Pencurian, perkelahian, perampokan, perebutan tanah adalah hal bisa di Krengpangi. Terhadap kenyataan itu, aparat keamanan seakan tak berdaya. Jarang warga Madura yang ditangkap akibat tindak kriminalnya. “Kekesalan itu menjadi terakumulasi hingga menimbulkan dendam kesumat bagi warga Dayak,” tandas Sabran. Prof H.K.M.A Usop, mantan Rektor Universitas Palangkaraya yang kini sebagai Ketua Presedium Lembaga Musyawarah Dayak Daerah Kalimantan Tengah (KPLMDDKT), mengakui kalau banyak pelanggaran, tindakan kriminal yang merugikan harta dan nyawa orang Dayak. Sebetulnya, setiap kali terjadi bentrok selalu diakhiri perdamaian. Tapi, setiap kali pula warga Madura melanggarnya. Begitu seterusnya. “Paling tidak sudah ada 15 kali perdamaian. Tapi, hasilnya sama selalu dilanggar warga Madura,” kata Usop saat pertemuan tokoh masyarakat Dayak dengan DPRD Kalteng.  Bahkan, saat pembuatan jalan Palangkaraya-Kasongan terjadi bentrok Dayak-Madura, tepatnya di Bukit Batu tahun 1983.

Setelah bentrokan reda, dibuatlah perdamaian antara tokoh Dayak dengan tokoh Madura.   Ada satu poin penting dalam perjanjian itu. Yakni, Warga Madura dengan sukarela akan meninggalkan Kalimantan Tengah jika melakukan pertumpahan darah terhadap warga dayak. Tapi, berkali-kali ada pertumpahan darah warga Madura jangankan pergi tapi makin banyak berdatangan ke Kalimantan. “Dokumen itu yanh kini sedang kami cari,” tambha Usop. Tragedi pertumpahan darah di Kalimantan terjadi tahun 1967, pasca G 30 S/PKI. Tragedi itu tak lepas dari ekor G 30 SPKI. Saat itu pemerintahan Soeharto menuduh Cina di Kalimantan Barat adalah komunis. Untuk mengenyahkan Cina komunis, Soeharto menggunakan salah satu etnis Dayak untuk membunuh Cina yang komunis dan pendukung Pasukan Gerilyawan Serawak (PGRS). Korban pun berjatuhan sebanyak 300 orang. Selebihnya, ratusan ribu Cina diungsikan. Setelah itu, bentrokan Dayak tidak dengan Cina, tapi dengan Madura. Dayak menuding perilaku warga Madura tak terpuji. Suka kekerasan, dan sering melakukan tindakan kriminal yang banyak merugikan warga Dayak. Bentrokan kecil dan besar antara dayak dan Madura di Kalimantan Tengah sejak 1983 sudah terhitung 15 kali. Tapi, selalu berakhir perdamaian. Sebelum kasus Kerengpangi dan Sampit, bentrokan besar terjadi tahun 1996 dan 1997 di Sangauleudo di Kalbar maupun Sambas. Dimana dua warga dayak ditusuk sampai tewas oarang Madura. Kerusuhan pun pecah, sedikitnya 1000 korban tewas. Dan sebanyak 2000 warga Madura diungsikan. (bh)

 

‘Kuluk,… Kuluk,… Kuluk…’,Esoknya Semua Tanpa Kepala

 

BOHONG, kalau Gubernur Kalteng Asnawi Agani mengatakan orang Madura yang tewas 200 orang, meskipun itu informasi yang datang dari Posko Sampit. Hal ini dikatakan sejumlah orang Madura yang ikut naik KRI Teluk Ende 517. Dalam pelayaran menyusuri Sungai Mentaya (70 km), ABK dan pengungsi bisa Melihat puluhan mayat yang mengapung di sepanjang sungai, dan sejumlah Bangunan rumah warga Madura dan Pasar Sampit/Pasar Ganal yang tinggal temboknya yang hangus. Dikatakan seorang pengungsi yang bekerja di penggergajian kayu, PT Sempagan Raya Sampit, Abdul Sari (30), bahwa yang tampak di sungai saja ada puluhan yang mengapung dan tersangkut di pinggir. Sementara yang hanyut dan tenggelam lebih dari 200 warga etnis Madura. “Ini baru yang di sungai, belum yang terserak di pinggir sepanjang Jl. Masjid Nur Agung saja tidak kurang dari 200 mayat,” katanya. Sementara di Jl. Sampit Pangkalan Bun, saat ini masih banyak mayat yang bergelimpangan di tepi jalan. Mayat-mayat itu hanya ditutupi dengan batu koral yang dibungkus karung sak. Tidak ada yang menolong untuk dimakamkan, kami tidak mungkin untuk melakukan itu. Sedang untuk bisa lolos dari kejaran dan tebasan mandau Dayak saja sudah bersyukur. Abdul Sari juga mengatakan, sekarang pasukan Dayak tidak lagi membedakan siapa yang akan dibunuh. Awalnya yang diserang hanya etnis Madura, tapi kini semua pendatang, termasuk orang Jawa, dan Cina. Mereka bukan hanya ditebas lehernya saja, tapi juga dipenggal jadi beberapa potong. Di mata etnis Madura, polisi setempat sudah kehilangan kepercayaannya lagi. Mereka (warga etnis Madura) mengaku, siangnya di sweeping dan senjatanya disita petugas, dan mereka (petugas) mengatakan, semua sudah aman dan tidak ada apa-apa lagi. Maka warga etnis Madura di Jl. Sampit Pangkalan Bun tenang-tenang saja dan percaya pada petugas. Ternyata malamnya diawali dengan suara kuluk,… kuluk,… kuluk,… sebentar kemudian pasukan Dayak muncul dan membunuhi warga Madura.

Tidak ada yang tersisa, mereka yang menyerah maupun yang lari dibunuh. Umumnya mereka diserang pada malam hari, ratusan Dayak dengan suara kuluk…, kuluk…, sambung-menyambung muncul dari segala penjuru. Esoknya warga etnis Madura mati mengenaskan dengan badan tanpa kepala lagi. Parebuk Menurut warga etnis Madura yang ikut KRI Teluk Ende, Sopian (56), warga yang banyak mati dari daerah Parebuk, Semuda. Karena warga Madura yang ada di sini tidak menghindar tapi melakukan perlawanan sengit. “Saat ini di sana yang tersisa tinggal wanita dan anak-anak,” kata Sopian. Sopian yang datang ke pengungsian dengan jalan menyusuri sungai mengatakan, dia berjalan sambil sembunyi-sembunyi di antara pohon hutan yang cukup lebat. Ternyata setelah 7 hari di pengungsian ia hanya melihat beberapa warga Madura dari Semuda. Berarti ada sedikitnya 500 orang Madura yang tewas melawan Dayak di Semuda. “Kalau masih hidup seharusnya perjalanan mereka tidak lebih dari satu atau dua hari saja,” kata Sopian. Sopian bersama pengungsi lain yang ada di pengungsian pun mengaku masih dibayang-bayangi pasukan suku Dayak. Bahkan ada isu bahwa kamp pengungsian di halaman Pemda Sampit akan diserbu oleh Dayak. Hal ini membuat warga Madura yang ada di pengungsian menjadi resah, di samping mereka sudah ketakutan, juga mereka sudah tidak memiliki senjata lagi. Menurut Kilan, sejumlah orang Dayak membawa mayat orang Madura dengan geledekan keliling kota. Tidak sampai di situ, geledekan yang berisi orang Madura ditinggal begitu saja di depan Polres Sampit, Jl. Sudirman.Kekesalan warga Madura terhadap oknum polisi di Polsek Jl. Ba Amang Tengah semakin menjadi, seperti yang diungkapkan oleh Somad yang mendatangi kantor Polsek. Ia minta perlindungan setelah dikejar-kejar oleh sekitar 50 Dayak, Somad minta diantar ke tempat pengungsian. Kapolsek bukannya menolong tapi justru memanggil Dayak yang ada di sekitar situ. Somad mengaku lari ke belakang, dengan melompat lewat pintu belakang Polsek ia akhirnya lolos lari ke semak-semak. Ia sempat merangkak sejauh 300 m sebelum lepas dari kejaran Dayak dan lari ke hutan. Dari hutan ini ia menyusuri tepian hutan dan akhirnya sampai ke tempat pengungsian. Ia pun bersyukur karena bisa ketemu dengan anak istrinya. Seorang pengungsi, Choiri (40), dari Pasuruan mengatakan, ada peristiwa yang sangat mengenaskan dari daerah Belanti Tanjung Katung, Sampit. Sebanyak 4 truk pengungsi Parengkuan yang dibawa oleh orang yang mengaku petugas dengan mengatakan akan dibawa ke tempat penampungan pengungsi di SMP 2, akhirnya dibantai habis. Ternyata mereka yang mengaku petugas adalah pasukan Dayak, orang Madura disuruh turun dan dibantai. “Jika tiap truk berisi 50 pengungsi berarti ada 200 pengungsi yang tewas dibantai,” kata Choiri. Choiri mengatakan, yang dibantai itu semuanya wanita dan anak anak.

Begitu jemputan yang kedua tiba, yang diangkut adalah orang laki-laki dewasa, justru mereka selamat tidak di tempat pengungsian karena dikawal oleh Brimob dari Jakarta. Liar Pengakuan seorang pengungsi, Titin (19), asli Lumajang, yang tinggal di Jl. Pinang 20 Sampit mengatakan, suaminya yang asli Dayak Kapuas yang kini ikut pasukan Dayak. Ia menceritakan, suaminya pernah bercerita padanya, mengapa orang Dayak menjadi pandai berkelahi dan larinya cepat bagai kijang. Awalnya suaminya enggan menjadi pasukan Dayak untuk membunuhi orang Madura. Tapi karena dihadapkan pada satu di antara dua pilihan, jadi pasukan atau mati, terpaksa suaminya memilih jadi pasukan Dayak. Saat itu ia disuruh minum cairan yang membuatnya ia menjadi berani, kemudian alisnya diolesi dengan minyak yang membuat ia melihat bahwa orang Madura itu berwujud anjing dan akhirnya harus diburu dan dibunuh. Makanya orang Dayak tidak punya takut, tidak punya rasa kasihan, ini menurut Titin karena sudah diberi minuman dan olesan minyak tertentu. Sehingga mereka mirip dengan jaran kepang yang sedang kesurupan, mungkin mereka kerasukan roh nenek moyangnya dan membunuh sesuai dengan perintah panglima perang suku Dayak. (R Dewanto Nusantoro)

 

Sumber dari postingan ini adalah dari email yang sempat menyebar pada bulan mei 2001, termasuk emailku juga menerimanya.